Politik Sampah Dan Sampah Politik




Pesta demokrasi 2019 akan segera dimulai hingar bingar perpolitikan Indonesia semakin memanas terhitung beberapa hari lagi rakyat akan menentukan kepada siapa nasib mereka  dipertaruhkan lima tahun kedepan.

Calon pemimpin legislatif maupun capres dan cawapres terus memperkuat visi dan misi, segala  jurus dan janji-janji manis kampanye terus dilontarkan, bujukan dan rayuan terhadap rakyat tak pernah berhenti.  Spanduk dan pamflet bertebaran dipinggir jalan, blusukan ke desa-desa terpencil terus dilakukan. Nyatanya jalan menuju singgasana kekuasaan begitu sulit dan mahal, para calon menghabiskan dana yang tidak sedikit, menjual kepemilikan aset pribadi  untuk tembus parlemen bukan lagi rahasia baru karena terjun dalam perpolitikan Indonesia tak semudah dan semurah yang dibayangkan.

Demokrasi pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Menegaskan bahwa rakyat pemegang kekuasaan tertinggi apapun tergantung keputusan dan keinginan rakyat. Dalam hukum berdemokrasi rakyatlah penentu nasib para calon pemimpin.

Namun mengapa rakyat malah terbebani dengan politik, ketika rakyat dipaksa untuk mempercayai bahwa politik demokrasi akan menjamin kesejahteraan.

Walaupun Indonesia negara subur banyak rakyat mati kelaparan. Indonesia negara agraris namun rata-rata dibawah garis kemiskinan, keadilan dan kesejahteraan tidak dirasakan rakyat. Sebaliknya menanti janji manis pemimpin seperti tidur disiang bolong, pembangunan dan pemerataan infrastruktur tidak menjamin ekonomi rakyat semakin baik, mirisnya negeri ini ketika rakyat tertipu indahnya demokrasi.

Di singgasana kekuasaan para penguasa berpesta riah begitu bahagia memenangkan aspirasi rakyat. Padahal rakyat berharap mendapatkan hidup yang layak,  menggantung  harapan untuk pemimpin baru.


Setidaknya perpolitikan  Indonesia sudah mengalami pergantian tiga orde masa dan tujuh presiden namun rakyat seakan dibungkam dengan kekuasaan. Ketika rakyat melakukan demo menyuarakan aspirasi pemerintah justru tidak mengubris malah rakyat yang tidak bersalah diserang oleh para penegak hukum (polisi) dengan dalih melindungi kehormatan para penguasa. Mereka semua seakan lupa bahwa demonstrasi adalah bagian penting dari demokrasi.

Saat manusia-manusia berdasi duduk dikursi jabatan dengan bangganya  uang rakyat digelapkan seakan balas dendam, mengumpulkan pundi-pundi uang rakyat untuk mengganti aset pribadi yang telah habis terjual. Korupsi bukan lagi berita panas ditelinga rakyat, berulangkali rakyat menahan kekecewaan, menanti keadilan tegak dibumi Indonesia.

Sistem politik yang kacau menyisahkan sampah politik yang tak berkesudahan  rakyat lagi yang manjadi korban sampah politik.

Partai politik yang merupakan sarana pendidikan dan penghasil politisi terbaik untuk negara malah menjadi sarang pelindung para koruptor. Tugas partai politik seakan hilang entah kemana, pembodohan terhadap rakyat terus terjadi. Partai tidak konsisten menatap kedepan, bukannya mencari solusi malah berbangga diri dengan demokrasi birokrasi yang menghasilkan pemimpin fasis.

Hidup dinegara berideologi demokrasi bukan solusi, pemerintah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keadilan hanya menjadi cerita fiksi.

Indonesia kaya tapi tak jaya sumber daya alam dikuras, dicuri, dieksploatasi habis-habisan oleh manusia rakus bergelar kapitalis. Perlahan tapi pasti kekayaan negara malah berpindah kepihak asing, penguasa antara lupa atau pura-pura lupa bahwa rakyatlah yang harus menikmati kekayaan alam yang diberikan Tuhan dibumi pertiwi tercinta ini. Lagi dan lagi rakyat dibuat bungkam dengan kekuasaan.

Penderitaan rakyat tak pernah berhenti, pajak yang terus meroket, pengangguran semakin bertambah, dan lapangan kerja yang sulit. Sederet janji-janji kampanye hanya pencitraan semata. Sistem politik Indonesia hanya menghasilkan politik sampah dan sampah politik.

@Cnh.R

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehancuran Demokrasi

TIPS MENGHADAPI SELEKSI MASUK PTN